Ahmad MA

Hanya Blog Biasa

Daeng Beta dan Kampung Berua, Rammang-Rammang

Leave a Comment
Pria bertopi dengan perawakan sedikit gemuk dan berkulit gelap yang membawa kami dengan perahu motor itu terlihat menghindari bebatuan tajam dengan sangat hati-hati pada jalur sungai yang akan mengantar kami menuju kampung berua – Rammang-rammang, Maros. Sesekali pria yang berumur 60an tahun itu menunjukkan lokasi-lokasi pemandangan menarik dari jalan sungai yang kami lalui, pria yang membawa perahu motor itu bernama Daeng Beta. Daeng Beta memang bekerja sebagai ojek perahu motor (jolloro) bagi orang yang ingin datang di kampung berua (kampung baru), ia menetap di kampung berua dan tinggal bersama istri dan 3 orang anak perempuannya, sedang 2 anak laki-lakinya sedang merantau keluar Sulawesi Selatan.

Daeng Beta Rammang-rammang

Menuju Kampung berua - rammang-rammang

Kampung Berua, adalah sebuah kampung yang dikelilingi oleh gunung-gunung Karst di kawasan Rammang-rammang. Menurut Daeng Beta yang telah menetap dan lahir di kampung tersebut, katanya, dulu ketika para pejuang di Maros – Pangkep Sulawesi Selatan saat terdesak oleh tentara belanda sebelum masa kemerdekaan, bila melarikan diri mereka masuk ke taman karst Rammang-rammang untuk bersembunyi dari tentara belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia di proklamasikan barulah para tentara-tentara yang pernah bersembunyi di kawasan taman karst membuat sebuah perkampungan dan akhirnya perkampungan itulah yang kita temui ketika menyusuri sungai hingga ke kampung berua, begitu Daeng Beta menceritakan sejarah kampung yang menjadi tempatnya menetap bersama keluarganya saat itu.

Kampung Berua Rammang-rammang

***

Rammang-rammang (awang-awang) saat sekarang ini adalah sebuah primadona baru bagi wisata di Sulawesi Selatan, jarak wisata rammang-rammang sekitar 40an kilometer dari kota Makassar. Rammang-rammang adalah bagian dari kawasan taman Karst di Maros dan Pangkep - Sulawesi Selatan. Menurut data badan lingkungan hidup Sulsel kawasan taman Karst Sulawesi Selatan kurang memiliki luas kurang lebih 43.700 hektar dan memiliki sekitar 280 goa, 16 diantaranya adalah situs goa prasejarah. Taman karst dengan keindahan tebing yang tajam di Rammang-rammang ini hanya terdapat 2 di Dunia, taman karst serupa dapat pula dijumpai di Negara Cina, Karst Guilin.

Hijau Kampung berua - rammang-rammang

Situs goa prasejarah dalam kawasan taman Karst di Maros sudah sering didatangi oleh para peneliti Internasional, goa-goa prasejarah tersebut diperkirakan dihuni sekitar 3.000 – 5.000 tahun yang lalu. Hal tersebut diperkuat dengan ditemukannya lukisan-lukisan tangan pada dinding goa Leang Mandauseng.

Di kampung Berua adalah sebuah perkampungan yang dikelilingi gunung-gunung karst di kawasan taman karst Maros, seperti sebuah benteng kokoh tinggi yang sengaja diciptakan Tuhan untuk menjaga kampung yang memiliki 14 kepala keluarga dengan pekerjaan utama sebagai petani, petambak dan ojek perahu motor untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung tersebut. “baru pada tahun 2012 orang-orang sudah mulai ramai datang jalan-jalan ke kampung ini nak (kampung berua), awalnya hanya memperkenalkan kampung ini dari mulut ke mulut ji” Daeng Beta dengan logat khas Makassarnya menjelaskan kepada saya awal mula kampung berua ramai dengan kunjungan wisatawan. Semakin hari kampung Daeng Beta itu semakin ramai, melihat peluang itu, dengan bermodalkan hasil sawah, pada tahun 2013 Daeng Beta membeli 1 perahu motor yang dapat memuat 8 orang untuk dijadikan ojek perahu motor. Sebelum memiliki perahu motor, Daeng Beta hanya memiliki 1 perahu dayung yang biasa beliau dan keluarga gunakan untuk keluar ke dermaga. Tapi hingga saat ini Daeng Beta sudah memiliki 5 perahu motor untuk mengantarkan wisatawan menjelajahi taman karst Rammang-rammang melalui jalur sungai.

Daeng Beta yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu punya cara sendiri untuk mendatangkan wisatawan ke kampung yang ditinggalinya tersebut. Pada pertengahan tahun 2013 beliau berinisiatif untuk membuatkan buku tamu bagi para wisatawan yang ia bawa ke kampung yang dikelilingi gunung karst itu. Tepat sekitar 100 meter dari dermaga kampung Berua – Rammang-rammang, Daeng Beta pun membuat sebuah balai bambu yang beratap daun nipah kering, niatnya itu dibangun untuk disewakan kepada para wisatawan yang berkunjung ke kampungnya tersebut, sedang isteri Daeng Beta membuka kedai jualan campuran tepat di belakang balai-balai bambu tersebut guna memudahkan wisatawan untuk berbelanja makanan atau minuman ala kadarnya di kampung Berua. Tidak jarang bila ada yang berkunjung ke kampungnya tersebut, Daeng Beta tidak sungkan-sungkan untuk menampung buat mereka yang ingin menginap di rumah panggungnya yang berdindingkan papan tersebut.

Dodo Mursalim yang bekerja sebagai travel agen lokal sering memakai jasa Daeng Beta untuk mengantarkan tamu-tamunya untuk berwisata ke Kampung Berua Rammang-rammang, berdasarkan penuturan pensiunan PLN yang hobby mengoleksi pena tersebut “itu Daeng Beta berjasa sekali sama wisata di Kampung Berua, beliau banyak membantu peran pemerintah setempat untuk menumbuhkan wisata di daerah tersebut, khususnya penyediaan sarana transportasi bagi tamu dan sarana lainnya”, Dodo Mursalim juga sangat mengagumi peran Daeng Beta yang selalu menjadi mediator atau problem solver disetiap kali ada perselisihan antar para ojek perahu motor (jolloro) di kawasan wisata Rammang-rammang tersebut.

Pesona Kampung Berua Rammang-rammang

Untuk menuju ke lokasi taman karst rammang-rammang membutuhkan waktu sekitar 2 – 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan angkot dari pasar daya Makassar menuju Kabupaten Pangkep dengan biaya sekitar Rp. 10.000 – Rp. 15.000/Orang, berhentilah tepat di gerbang pintu masuk pabrik Bosowa Maros. Sekitar 2 kilo meter dari gerbang masuk pabrik Bosowa, pada sisi kiri carilah kantor PLN untuk memulai eksplore taman karst rammang-rammang dari jalur darat, sedang bila ingin menikmati taman karst tersebut melalui jalur sungai berhentilah tepat di jembatan besar Rammang-rammang (setelah kantor PLN)

Saya selalu rindu untuk kembali berkunjung ke Kampung Berua - Rammang-rammang, menenangkan diri dan belajar arti sebuah kesederhanaan dari keluarga Daeng Beta yang selalu ramah kepada setiap pengunjung kampung tersebut.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment