sumber gambar : suharman-musa.blogspot.com
Dalam budaya Bugis, lontara dikenal dengan 3 jenis, yakni lontara berupa dalam artian huruf, lontara dalam artian daun tempat untuk menulis dan lontara berupa naskah catatan tua / catatan harian. Lontara berupa naskah catatan tua ini sangat menarik karena metode penulisan yang dilakukan orang-orang bugis dulu sudah memakai sistem Citizen Journalism / Jurnalisme Warga (pewarta warga).
Dalam Lontara Allaorumang, bagaimana orang bugis dulu mencatat secara lengkap bagaimana sistem bercocok tanam padi dalam lingkungan sosialnya dengan melihat fenomena alam sekitarnya. Dalam lontara tersebut menjelaskan dengan rinci bagaimana orang-orang Bugis dulu penentuan waktu yang tepat untuk melakukan penanaman padi (mappalili), melakukan proses persemaian (mappatinro bine), hingga proses akhir panen. Bukan hanya itu saja, dalam lontara allaorumang juga menjelaskan hari dan jam apa saja yang baik untuk turun ke sawah. Seperti itulah cara masyarakat Bugis mencatat dan merekam kehidupan sosial mereka hingga mempunyai nilai historis yang tak terhingga untuk anak cucunya saat ini.
*****
Dengan perkembangan teknologi di era saat ini, tentu menulis menggunakan lontara bukanlah sebuah alternatif yang pas. Hidup ini perlu keseimbangan, pun dengan perkembangan yang terjadi pada masa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Maskawaih “keseimbangan itu hubungan yang proporsional diantara segala sesuatu”, Ketika kita menjalankan proses keseimbangan itu secara tidak langsung kita sudah memberikan pendidikan kepada jiwa agar selalu sederhana dalam segala hal.
Berdasarkan data statistik info grafik di atas, perkembangan internet di Indonesia mencapai 15% atau 38,191,873 pengguna internet dari total populasi kita 251,160,124. Perkembangan internet tersebut dapat kita manfaatkan untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat di sekitar kita melalui blog. Kalau dulu orang-orang bugis mencatat kegiatan sosial yang terjadi di sekitarnya dengan menggunakan lontara, saat era digital, peran blog pun sama dengan lontara masyarakat Bugis. Blog memiliki banyak keunggulan karena penyebaran informasinya sangat cepat, blog juga langsung dapat diakses oleh banyak orang walaupun berlainan tempat. Dengan hanya bermodalkan komputer PC / laptop dan internet, semua orang dapat memiliki blog, apalagi saat ini sudah sangat banyak penyedia layanan blog gratis bermunculan, seperti wordpress, blogspot, blogdetik dll.
Dengan menggunakan blog semua blogger sudah dapat membuat naskah lontara pribadinya sendiri-sendiri. Saat ini jumlah blogger di Indonesia sudah menembus angkah 7 juta, 50% saja dari setiap blogger-blogger indonesia mencatat kejadian-kejadian sosial di sekitarnya setiap hari maka begitu banyak informasi bermanfaat yang bisa kita akses setiap saat.
Dari statistik penyebaran konten media nasional berdasarkan daerah yang bersumber dari film dokumenter terpenjara di udara, sangat jelas terlihat bahwa konten yang berhubungan dengan Sulawesi hanya sebesar 5,8%. Dalam statistik tersebut kebanyakan konten pulau Sulawesi bertema tentang kerusuhan, tawuran atau demo anarkis yang merusakkan citra tempat kami menetap.
Peran blogger yang menginformasinya semua hal-hal kecil di sekitar sepertinya akan menjadi salah satu solusi dari tidak meratanya konten media nasional di setiap daerah. Mulai saat ini mari kita mengikuti semangat masyarakat bugis kuno mencatat sejarahnya, melalui tulisan citizen journalism kita kabarkan melalui blog.
Benar.
ReplyDeleteKekuatan citizen jurnalism lebih terpecaya dari pada berita yang ter-Jekardah-kan.
eh mas wahyu *salim*
ReplyDeleteyah kalau di Makassar sendiri sudah bosan mas dengan pemberitaan negatif terus, sedang hal-hal yang positif jarang terangkat di media. mungkin konsumen informasi positif juga sudah tidak ada lagi :)