Ahmad MA

Hanya Blog Biasa

Cahaya Dari Timur: Konflik, Harapan Dan Kepedulian

Leave a Comment
Mungkin usianya kisaran 50an tahun, badannya gempal dengan perut sedikit buncit, ia memiliki rambut ikal yang sebagaimana ciri khas rambut-rambut orang Maluku pada umumnya, alis terbalnya menjulang di atas kedua mata yang sayup dan terlihat sederhana, menyelempang tas pinggang adalah salah satu kebiasaannya. Begitulah saya mendeskripsikan Sani Tawainella berdasarkan foto yang saya dapatkan di Internet, Ia yang sangat jauh sekali berbeda pada sosoknya dalam film Cahaya Dari Maluku. Sani Tawainella adalah tokoh utama dalam film Cahaya Dari Timur, ia juga yang menjadi inpirasi Zen RS dalam tokoh Said dalam novel Jalan Lain ke Tulehu.

Sani Tawainella
Sani Tawainella saat diinterview oleh Hedi tahun 2013 via twitter Zen RS


Sani sudah terlanjut cinta pada sepakbola, sejak kecil ia mempunyai cita-cita ingin menjadi pemain profesional di Indonesia. Harapan Sani pun mendapatkan titik terang, namanya masuk mewakili Maluku dalam tim Nasional U-15 Indonesia pada kejuaraan pelajar se-Asia. Setelah kejuaraan pelajar se-Asia itulah harapan Sani mulai meredup, cita-cita yang selama ini digantungkan sejak kecil tidak sejalan dengan takdir hidup yang dilaluinya, hingga Sani pun mengubur dalam-dalam harapannya itu. Sani dewasa menggantungkan hidup dan keluarganya pada upah ngojek yang dilakukannya di Desa Tulehu, sebuah desa di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

***


cahaya dari timur: beta maluku

Pada tahun 1999 kerusuhan beratasnamakan Agama di Ambon pecah dan merembes pada dua desa yang bersebelahan di Salahutu - Maluku tengah, desa tersebut yakni desa Tulehu yang menjadi kampung Muslim dan desa Posso yang menjadi kampung Nasrani. Korban yang melibatkan perang saudara di Ambon terus berjatuhan baik orang dewasa serta anak-anak yang masih belum tahu apa-apa tentang Agama. Hal itu pun terjadi pada perang Tulehu dan Passo, perang yang menguburkan banyak harapan dan korban, perang yang lebih mementingkan Agama ketimbang rasa kemanusiaan makluk yang berTuhan.

Sani yang tidak mau ikut terlibat dalam perang saudara yang melibatkan desanya itu merasa kasihan pada anak-anak kecil di Tulehu yang harus menyaksikan kerusuhan berdarah, letusan bom molotov serta rentetan-rentetan bunyi senjata, ia terpanggil untuk menyelamatkan harapan anak-anak Tulehu dengan bekalnya saat berlatih di diklat ragunan saat masuk dalam tim nasional U-15. Dengan bekal tersebut ia melatih anak-anak Tulehu bermain sepakbola setiap sore di lapangan Mato Waru - Tulehu, Sani juga mengajak sahabatnya Rafi untuk ikut melatih anak-anak Tulehu agar terhindar dari kerasnya konflik saudara yang terjadi Tulehu. Saat Sani melatih mereka, harapan pada kecintaannya pada sepakbola saat kecil seakan kembali hidup dari dirinya, semangat itu pula yang ditanamkan pada Alfin, Pellu, Hendra Adi, Sadek Sanaky, Hari Zamhari serta Salim Ohorella dan anak-anak Tulehu lainnya untuk meninggikan harapan pada Sepakbola kelak. Sani dan Rafi terus melatih mereka walau kerusuhan Ambon pun sudah dalam tahap damai, mereka terus melatih anak-anak Tulehu hingga remaja.

Setelah masa damai konflik di Ambon, konflik-konflik baru pun muncul dalam kehidupan Sani, mulai dari bagaimana tanggung jawabnya akan kelangsungan cita-cita anak-anak teluhu dan kewajiban untuk menghidupi anak dan isterinya, konflik kehidupan antar anak didiknya, konflik dengan rafi yang seakan memanfaatkan hasil melatih anak-anak Tulehu selama 5 tahun demi kepentingan personal, bagaimana ia terpilih sebagai pelatih kepala tim U-15 Maluku untuk kejuaraan di Jakarta dan berusaha menyatuka perbedaan-perbedaan warisan kerusuhan Ambon di tahun 1999, dan masih banyak kejutan-kejutan konflik lainnya. Ahh film Cahaya dari Timur ini bagi saya tidak keren, tapi sangat-sangat keren. Bila saya ceritakan semua alur cerita dari film keren ini pada review teman-teman tidak akan merasakan kejutan-kejutan yang dihadirkan oleh penulis skenario dari film yang diangkat dari kisah nyata Sani Tawainella.

Setelah menonton film ini saya mengingat status twitter yang pernah dituliskan kak Nurhady Sirimorok pada tanggal 27 April 2014 tentang konflik dari akun twitternya @nurhadys, ia mengatakan seperti ini: “Bagi yang kebetulan belum tahu, konflik itu bukan ‘penyakit’, dia bagian normal dalam hidup. Jadi kita tidak harus hilangkan, tapi dikelola”. Bagi saya Sani Tawainella mungkin sebagian warga Ambon yang berhasil mengelola konflik yang berkecamuk pada akhir tahun 1999 di Maluku.

Kalau mengomentari alur film cahaya dari timur ini saya kira keberhasilan Irfan Ramly sebagai penulis skenario tidak perlu dipertanyakan lagi, sebagai putera Maluku sendiri, menceritakan konflik Ambon 1999, membuat karakter setiap tokoh serta kehidupan sosial budaya masyarakat Maluku sudah dapat divisualisasikan dengan baik oleh Angga Dwimas Sasongko. Kombinasi skenario dan visualisasi inilah yang mempermainkan emosi saya selama 120 menit saat menontonnya kemarin malam, walau pun ada beberapa adegan yang melibatkan banyak massa masih belum rapi pengambilannya. Keberhasilan film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku tidak lepas pula dari semua pemerannya: Jajang C. Noer, Shafira Umm, Aufa Assegaf, Ridho Slank, Chicco Jericho yang memerankan tokoh Sani serta pemeran anak-anak Tulehu juga berhasil menyampaikan pesan dalam film ini.

Sekedar saran buat teman-teman yang ingin menonton film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, baiknya sebelum menontonnya ada baiknya teman-teman membaca novel Jalan Lain ke Tulehu karya Zen RS terlebih dahulu. Bagi saya novel Jalan Lain ke Tulehu adalah sebuah pintu imajinasi dari film Cahaya dari Timur ini, imajinasi yang terbangun dari membaca novel jalan lain ke tulehu tersebutlah yang nantinya banyak menciptakan kejutan-kejutan bila menghubungkannya saat menonton film ini.

Gerakan 100 Titik Layar Tancap

Dengan menonton film Cahaya dari Timur: Beta Maluku di bioskop, secara tidak langsung kita ikut membantu Gerakan 100 Titik Layar Tancap untuk daerah di Indonesia yg belum terakses bioskop.



Setelah mendapatkan banyak referensi tentang Tulehu dari film Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan novel Jalan Lain ke Tulehu, saya jadi ingin mengenal dengan dekat negeri pencipta pemain-pemain hebat Indonesia itu, ingin menikmati birunya laut dan pasir putih pantai di Ambol. Suatu saat nanti saya akan mengenalnya lebih dekat, sedekat bola dan sepatu anak-anak Tulehu yang lagi memainkan harapan di atas lapangan Mato Waru.

Ini bukan soal agama! Ini soal bola!
Beta Indonesia
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment