Siaran televisi sore itu lagi menyiarkan demo yang terjadi siang sebelumnya di Makassar, obrolan kami pun seputar tentang demo,lalu menjurus ke tawuran serta kerusahan yang terjadi di Ambon saat tahun 1999. Saat kerusuhan Ambon saat itu Dedi masih bersekolah di salah satu SMA di Tual - Ambon, ia menceritakan bagaimana ia dan keluarganya menyelamatkan diri dari kejaran pasukan muslim hingga naik ke gunung. Cerita Dedi sore itu seperti hidup, sangat hidup, hingga setiap penggalan-penggalan ceritanya serasa berjalan-jalan di gendang telinga saya lalu naik dan meledakan dalam kepala saya. Saat kerusuhan itu Dedi kehilangan adik laki-lakinya yang berusia 12 tahun serta paman dan bibinya.
Setiap orang menuliskan kisahnya sendiri-sendiri. Namun pada saat yang sama, kisah masing-masing tidak pernah betul-betul dituliskan sendirian – Jalan Lain Ke Tulehu
Kutipan di atas adalah ucapan Gentur dalam novel Jalan Lain Ke Tulehu, perkataan Gentur itu sepertinya membuka kembali ingatan dalam kepala saya pada sore itu bersama Dedi, kisah dua tahun lalu dimana dedi membuka kembali ingatannya saat kerusuhan yang mengambil adik laki-laki, paman serta bibinya, kisah yang berjarak empat meter pada puing-puing kenangannya yang hangus dilahap kerusuhan yang mengatasnamakan Agama. Kisah yang diceritakan Dedi dua tahun yang lalu itu kembali mengejar-ngejar ingatan saya saat membaca novel Jalan Lain Ke Tulehu karya Zen RS.
Saat membaca lembaran bab pertama dari novel Jalan Lain Ke Tulehu ingatan tentang apa yang diceritakan dedi pun sudah mengejar-debar dalam kepala dan dada saya. Kisah Jalan Lain Ke Tulehu bercerita tentang Gentur, seorang wartawan lepas dari jakarta yang bekerja di salah satu media pemberitaan Jepang. Saat membaca lembar satu-dua, Zen RS sudah memberikan konflik saat Gentur berangkat dari Surabaya menuju Ambon dengan menaiki kapal yang salah, lalu penyambutan Gentur di Ambon dengan ledakan-ledakan dan bunyi rentetan senjata yang mengepung telinganya, situasi itu seperti film serial koboi Bonanza saat lagi berperang dengan musuhnya tulis Zen dalam novel itu.
Dalam novel Jalan Lain Ke Tulehu ada beberapa ruang yang memanjakan imajinasi dalam kepala saya, ruang-ruang yang membuat saya tidak dapat merasakan dengusan nafas sendiri saat membaca lembar demi lembar dari novel karya pertama Zen RS itu. Tapi diantara banyaknya ruang yang Zen RS sediakan dalam plot cerita dalam novelnya, ruang yang menjadi favorit saya ketika saat warga Tulehu lebih mementingkan laga semifinal Belanda melawan Itali saat euro 2000 ketimbang nyawa mereka sendiri. Ruang inilah yang membawa Gentur sampai ke Tulehu, sebuah negeri yang menciptakan banyak pemain-pemain sepakbola Indonesia dengan bakat alami.
Setelah membaca Jalan Lain Ke Tulehu milik Zen RS ini, dari sekian banyaknya konflik yang menimpa Gentur saat di Ambon, konflik kepercayaan yang mengembalikan ingatan Gentur pada kekasihnya Eva saat kerusuhan 1998 di Jakarta adalah konflik yang menjadi kesukaan saya. Konflik Gentur dengan dirinya sendiri inilah berkelanjutan pada plot cerita terakhir, saat ia ditangkap oleh pasukan salib dan hendak dieksekusi. Untuk endingnya sendiri, saya melihat Zen RS sengaja memberikan sepenuhnya akhir cerita novel ini kepada setiap pembacanya.
***
Kehidupan bukan bergerak dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana - Jalan Lain Ke Tulehu
Dari setiap suasana itulah kemudian menjadi simpul baru untuk mengembalikan kehidupan dalam ingatan sebelumnya yang telah masuk ke mulut waktu. Sama ketika membaca novel Jalan Lain Ke Tulehu ini seakan mulut waktu kembali memuntahkan ingatan dua tahun silam, ingatan obrolan sore dengan segelas kopi dan seorang kawan bernama Dedi yang saat ini sudah mempunyai keluarga dan bekerja di salah satu instansi swasta di Tual – Ambon. Bacalah Jalan Lain Ke Tulehu dan bersiaplah dikejar ingatan-ingatanmu.
[…] Mungkin usianya kisaran 50an tahun, badannya gempal dengan perut sedikit buncit, ia memiliki rambutnya ikal yang sebagaimana ciri khas rambut-rambut orang Maluku pada umumnya, alis terbalnya menjulang di atas kedua mata yang sayup dan terlihat sederhana, menyelempang tas pinggang adalah salah satu kebiasaannya. Begitulah saya mendeskripsikan Sani Tawainella berdasarkan foto yang saya dapatkan di Internet, Ia yang sangat jauh sekali berbeda pada sosoknya dalam film Cahaya Dari Maluku. Sani Tawainella adalah tokoh utama dalam film Cahaya Dari Timur, ia juga yang menjadi inpirasi Zen RS dalam tokoh Said dalam novel Jalan Lain ke Tulehu. […]
ReplyDelete