Catatan-catatan para biarawan Fransiskan yang disalin dan dikutip oleh van Frassen—menyebutkan bahwa cengkeh selalu digunakan sebagai salah satu bahan utama dari pengawet mumi para Fir'aun, saat masa pemerintahan Mesir kuno dulu, tanaman rempah asal Maluku ini berasal dari bahasa Mandarin Tkeng-his atau Xi'jia yang berarti cengkeh/rempah (Brierly, 1994) [Ekspedisi Cengkeh: 2013]
*****
Pria gempal dengan ciri kumis tipisnya itu sedang memandang bukit-bukit Kepulauan Selayar dari atas kapal motor yang kami kendarai pada akhir bulan Oktober 2014 lalu. Lelaki itu bernama Daeng Suasa (53 tahun), bapak beranak tiga ini sehari-harinya bekerja di Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Selain bekerja sebagai abdi rakyat, ia pun seorang petani Cengkeh. “sayang lahan-lahan ini tidak digunakan untuk menanam cengkeh, padahal letak geografisnya sangat bagus untuk tumbahan cengkeh.” Kata Daeng Suasa sambil menatap bukit-bukit tadi.
Foto: Daeng Suasa paling kiri yang menggunakan topi, saat berbincang-bincang bersama warga Jinato - Selayar | by Ahmad MA
Saat tahun 1983, Daeng Suasa yang sebelumnya menjadi tenaga honorer selama 2 tahun terangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).Tugas pertamanya sebagai PNS saat itu ditempatkan di salah satu daerah kepulauan penghasil rempah terbesar di tahun 1512 – 1521 (berdasarkan risalah klasik pires 1512-1521), Tidore - Maluku Utara. Di sana ia bertugas di Balai Konservasi Lahan dan Benih, selama bertugas di sana, Daeng Suasa sering bepergian ke desa-desa untuk sosialisasi atau melakukan konservasi lahan dan benih untuk para petani di Bumi Kie Raha (Tanah Empat Pegunungan) tersebut.
Pada awal tahun 1999, terjadi sebuah insiden di Batu Merah – Kota Ambon antara seorang supir angkot dan preman pasar, insiden itu pun meluas menjadi sebuah tragedi kemanusiaan (kerusuhan Ambon) di Bumi Patimura. “saya tidak bisa menyangka mendapatkan peristiwa seperti saat itu, yang ada di kepala saya bagaimana menyelematkan keluarga dan ingin cepat pulang kampung halaman” katanya dengan mengingat-ingat peristiwa tersebut. Dengan berpindah-pindah tempat pengungsian bersama keluarganya, nantilah di tahun 2000 ia baru dapat meninggalkan Negeri Rempah yang ditinggalinya selama 16 tahun tersebut dan kembali ke kampungnya di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Mungkin sebuah kebetulan, saat peristiwa tersebut balai taman nasional Taka Bonerate lagi membutuhkan seorang karyawan, atas rekomendasi sahabat di sana saya ditunjuk mengisi posisi tersebut. Mungkin sudah waktunya mengabdi pada tanah kelahiran sendiri setelah 16 tahun di kampung orang” ujar Daeng Suasa sambil memandang saya dengan sedikit senyum.
Saat menetap di Selayar bersama keluarganya, Daeng Suasa mulai memikirkan umurnya yang sudah memasuki kepala lima, ia memikirkan jika saat pensiun nanti bagaimana membiayai sekolah anak-anaknya kelak. Atas keresahannya itulah ia mulai memikirkan bagaimana kalau hobi bertani dan berkebun yang diwariskan bapaknya ia terapkan dengan pengalaman yang pernah ia dapatkan saat di tanah Maluku. “saya menjual rumah yang pernah saya beli di Tidore, karena sepertinya saya tidak akan kembali menetap lagi di sana. Saat itu saya meminta seorang teman di sana untuk membantu menjualnya. Nanti hasil penjualannya saya pakai untuk modal buat kebun cengkeh di sini” ujar Daeng Suasa dengan logat khas Makassarnya.
Foto: gemah rempah cengkeh yang harus berakar dari Petani | Sumber timur-angin.com
Petani cengkeh di Selayar itu hanya ada di Kec. Bontomanai, tepatnya di desa Bonea Makmur, desa Bonea Timur dan desa Bontomarannu. “dulu petani cengkeh di Selayar banyak sebelum Indonesia terkena krisis moneter di tahun 1998. Tapi karena saat itu harga vanili pernah sangat tinggi, petani-petani cengkeh di sini menebang pohon-pohon cengkehnya dan menggantinya dengan vanili. Hanya sebagian petani yang masih mempertahankan cengkehnya” kata Daeng Suasa. “nanti setelah harga cengkeh melambung tinggi saat krisis moneter dan harga vanila merosot turun barulah mereka menyesal” lanjut Daeng Suasa.
Mendengar penuturan Daeng Suasa itu, saya lantas teringan Ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie tochten) yang dilakukan oleh VOC di abad ke 17. Ekspedisi itu bertujuan untuk memusnakan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti dan Makian. Hanya di daerah Ambon dan Lease yang dapat menanam tanaman asli Maluku tersebut, mereka memilih kedua daerah itu karena dekat dengan pusat pemerintahannya di Banda. Setelah berhasil dengan Ekspedisi Pelayaran Honginya, VOC pun berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah dari beberapa bangsa Eropa yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu. [Ekspedisi Cengkeh]
Bagi Daeng Suasa, petani itu harus seperti seorang ibu yang lagi merawat dan mengasuh anaknya. Seorang ibu dituntut sabar untuk melakukan berbagi pekerjaan seperti: memandikan, memberikan susu, mengajarkannya cara tengkurap, merangkak serta berjalan, dan memberikan kasih sayang sepenuh hati. Semangat seorang ibu itulah yang kurang dari petani-petani saat ini. Hampir sebagian besar petani yang ia temui saat masih di Tidore dan di Selayar masih memakai pola pikir mie instant. “Mau cepat mendapatkan hasil tapi kurang suka dengan proses” ujarnya tersenyum. “Saat baru ingin menanam cengkeh dulu visi saya cuman satu, bagaimana hasil dari cengkeh saya nanti lebih bagus dari petani-petani yang ada di Selayar, yah hanya itu. Karena hasil dari petani cengkeh di sini itu ca’di-ca’di (kecil-kecil).” Lanjutnya.
Saat melakukan konservasi lahan dan bibit di Tidore dulu, Deang Suasa banyak belajar dari petani di sana, salah satunya cengkeh sangat baik ditanam di ketinggian 500-700 meter di atas permukaan laut. Atas pertimbangan itulah tahun 2002 ia membeli lahan sepupunya dari hasil penjualan rumahnya di Tidore. Lahan itulah yang kemudian ia isi dengan 300 bibit cengkeh yang telah ia pesan dari temannya di sana. Dari 300 bibit cengkeh yang ia tanam hanya 100 bibit yang tumbuh menjadi pohon cengkeh desawa yang sehat, dari 100 pohon cengkeh dewasa itulah Daeng Suasa menerapkan semangat seorang ibu yang sedang merawat/mengasuh anaknya.
Pada tahun 2010, pohon-pohon cengkeh yang Daeng Suasa tanam di lahan miliknya saat 2002 dulu sudah belajar berbuah. Dari hasil panen dari pohon-pohon cengkeh yang selebar lengan tangan orang dewasa itu ia mendapatkan pemasukan 15 juta. “pertama kali panen banyak orang yang heran kenapa buah cengkeh yang saya punya lebih besah ketimbang buah cengkeh yang ada di selayar pada umumnya, mungkin mereka tidak tahu kalau dulu bibit cengkeh saya itu langusng dari kampung cengkeh itu sendiri” katanya sambil tertawa kecil.
“Dari penghasilan 15 juta itulah saya mulai kembali membersihkan lahan tanah orang tua yang dulu pernah ditanami vanila untuk menggantinya dengan kebun cengkeh. Bibitnya pun masih saya pesan dari teman yang ada di Tidore” lanjutnya. Saat ini Daeng Suasa sudah memiliki 250 pohon cengkeh, 100 pohon dewasa dan 150 pohon cengkeh yang masih kecil. Dengan pengetahuannya tentang konservasi bibit, kini juga Daeng Suasa sudah melakukan produksi bibit-bibit cengkeh dari hasil yang ia punya untuk keperluan petani cengkeh di kampung halamannya. Sebab harapan besar itu selalu berawal dari proses yang paling bawah/pertama, petani.
*****
Bagi Daeng Suasa, hal mendasar yang ia pahami untuk menggemakan cengkeh tidak lain dari petani cengkeh itu sendiri, ketika petani menghasilkan cengkeh yang berkwalitas pasar akan datang sendiri mencarinya. “bukannya hal yang besar itu dimulai dengan sesuatu yang sederhana ?” ujarnya. Ketika mendengar perkataan Daeng Suasa itu saya lantas mengingat sebuah buku yakni Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes yang ditulis oleh Hanusz, Mark pada tahun 2000, dalam buku tersebut menjelaskan recikan kretek itu bermula dari obat sakit dada Haji Djamari saat akhir abad ke-19 di Kudus.
Haji Djamari yang terkena sakit dada ini mencoba minyak cengkeh sebagai obat dari penyakitnya tersebut. Karena sakit dada yang ia derita berangsur reda, ia pun mulai dekat dengan cengkeh dari saat itu. Karena kegemarannya menghisap tembakau, di suatu hari ia mencampurkan tembakau dan cengkeh dengan irisan kecil untuk ia nikmati. Karena rasa dari racikannya tersebut lebih beraroma dan dijadikannya sebagai obat ia pun terus mengkonsumsinya hingga penyakitnya hilang. Berdasarkan temuannya itulah yang menjadi cikal bakal rokok kretek di Indonesia. Karena produksi kretek semakin besar saat itu, permintaan pasar cengkeh pun kembali lagi setelah terpuruk karena revolusi industri di Eropa.
Untuk menciptakan Gemah Rempah Mahakarya Indonesia yang lebih besar dibutuhkan sinergi dari petani dan pasar rempah itu sendiri. Dunia rempah tidak hanya membutuhkan pemirikan-pemirikan sederhana dari petani cengkeh seperti Daeng Suasa yang mementingkan kwalitas hasil cengkehnya saja, tapi juga membutuhkan terobosan-terobosan baru seperti yang pernah dilakukan Haji Djamari agar gemah rempah itu semakin mendunia. [LB]
Pustaka:
- Ekspedisi Cengkeh: 2013
- Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes: 2000
0 comments:
Post a Comment