Dari kejauhan terlihat sebuah pulau dengan jejeran pohon kelapanya yang rapi, pasir-pasir putih di pulau tersebut seakan menjadi hamba yang sujud atas kokohnya pohon-pohon kelapa di pulau paling timut tersebut. Air pantainya yang jernih semakin menggoda saya takkala riak-riak gelombang menghapus ketenangannya, angin laut yang berlalu lalang di kedua telinga seakan sengaja berbisik manja kepada saya. Indahnya.
Karena tujuan kami ke pulau ini untuk sebuah menilai lomba Aksi Konservasi, saat perahu “rezeki selamat” yang kami kendarai berlabu di pantainya kami langsung mengambil lembar penilaian dan melakukan keliling desa di ujung timur kawasan taman nasional yang memiliki atol tercantik di dunia itu.
Deretan rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang sedikit pendek dari rumah panggung khas bugis pada umumnya, menyambut saya saat ingin mengelilingi kampung tersebut. Beberapa rumah panggung yang sudah hampir rubuh terlihat masih dihuni di desa ini, sangat jelas perbedaan fisik pemukiman desa Khusus Pasitallu ini dengan desa Jinoto yang kamarin kami datangi, tatak letak rumah-rumah panggung di Pasitallu juga sepertinya tidak beraturan. Rumah-rumah di desa tersebut hampir sebagian memakai atap daun kelapa kering yang menyerupai atap rumbiah.
Menurut kepala dusun desa Khusus Passitallu, mayoritas penduduk desa tersebut adalah Bajo yang berasal dari flores. Awalnya saya sempat berpikir mungkin karena kebudayaan suku Bajo yang sering hidup dengan rumah di atas laut, saat mendapatkan kesempatan bermukim di daratan maka jadinya seperti ini, rumah-rumah di kawasan pemukimannya tidak beraturan. Bukan hanya persoalan sosial budaya orang Bajo saat di darat saja yang saya dapatkan, pola pikir ekonomi suku Bajo di desa tersebut masih sangat ketingalan bila dibandikan dengan pola pikir bisnis orang Bugis di desa sebelumnya.
Saya pernah membaca sebuah literasi kalau suku Bajo ini tidak pandai dalam mengelola keuangan, ketika mereka mendapatkan penghasilan yang besar kadang mereka langsung menghabiskannya saat itu juga. Bila suku Bugis mendiami pulau-pulau di kawasan yang mempunyai atol tercantik ini karena DI/TII, lain halnya dengan suku Bajo. Berdasarkan nara sumber (warga Bajo) yang saya temui di desa Rajuni (desa yang akan saya habas pada tulisan ke 3 nanti), menurutnya suku Bajo sudah lebih dulu mendiami pulau-pulau di kawasan ini sebelum orang Bugis datang. “Leluhur kami dulu masih mempunyai rumah di atas laut, tapi karena seringnya dirampok oleh Bajak Laut suku Tobelo dulu makanya mereka memilih menetap di daratan” kata warga Bajo di desa Rajuni.
Setelah berkeliling dan memberikan penilaian pada desa khusus Pasitallu, kami pun bergegas ke pos polhut di pulau paling timur tersebut untuk beristirahat sejenak dan makan siang. Setelah mengisi lambung tengah di kampung Bajo tersebut kami pun melanjutkan perjalanan ke pulau sebelahnya, yakni Pasitallu tengah, pulau yang terlihat jelas dari desa khusus Pasitallu.
Desa Pasitallu tengah ini memiliki sekitar 100kk, di desa ini masyarakatnya sudah gabungan antara suku Bajo dan Bugis. Saat berkeliling desa terlihat jelas perbedaan strata sosial ekonomi di kampung tersebut, rata-rata rumah orang Bugis di desa ini terlihat lebih baik ketimbang koloni-koloni suku Bajo yang menetap di sana. Mungkin memang ada benarnya kalau suku Bajo itu tidak dapat mengelola keuangan mereka dengan baik, karena hampir mayoritas warga Bajo di desa Pasitallu tengah ini adalah anak buah dari juragan ikan di kampung tersebut, Bugis.
Tapi satu yang saya pastikan dari suku Bajo selain jiwa baharinya yang besar, yakni orang Bajo sangat kuat agamanya. Itu yang saya saksikan setelah melihat pemukiman suku Bajo di dua desa yang berdekatan tersebut. Melihat hal ini rasanya ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang suku yang dapat bertahan hidup tanpa daratan tersebut. Setelah berkeliling desa dan memberikan penilaian pada tugas masing-masing, kami pun melanjutkan perjalanan ke desa Latondu.
Untuk menuju ke desa Latondu dari Pasitallu tengah dapat ditempuh dengan waktu normal sekitar 4 – 5 jam perjalanan. Karena jadwal meninggalkan Jinato saat pagi tadi terhambat oleh air yang surut, kami pun sampai di desa Latondu malam hari. Saat itu kapal yang kami tumpangi “rezeki selamat” tidak dapat mengantar kami sampai ke pantai karena saat sampai di desa Latondu saat itu air sudah surut. Panitia pun meminta bantuan pada penduduk setempat untuk menjemput kami dari kapal menuju daratan pantai.
Saat itu ada perahu kecil (jolloro) yang datang, perahu yang dapat memuat sekitar 7 orang itu punya penyeimbang berupa bentangan bambu di setiap sisinya. Saat itu saya ikut pada kloter pertama, karena beban yang dibawah perahu tersebut terbilang padat kami pun berhimpit-himpitan dalam perahu kecil tersebut. Saat mesin kapal baru mau dinyalakan, tiba-tiba ada gelombang besar yang menghantam samping badan perahu itu hingga posisi perahu miring ke kanan, karena posisi miring tersebutlah beberapa orang dengan spontan bergeser ke kiri untuk menyeimbangkan kemiringannya. Tapi musibah pun terjadi, saat menyeimbangkan posisi miring kiri perahu itu malah membuatnya berbalik semakin miring ke arah kiri, hingga beberapa orang pun jatuh ke laut, termaksud saya. Perahu kecil itu bernama Dewa Ruci.
Dewa ruci pun terendam air hingga hampir terggelam, beberapa ruang kosong perahu kecil itu sudah dimasuki air laut. Dengan perasaan yang was-was akan barang bawaan yang basah, saya pun kembali naik ke perahu besar untuk melihat tas yang sudah basah oleh air laut. Semua barang yang saya bawa dalam ekspedisi kawasan Taka Bonerate tersebut semua basah, smartphone, kamera serta leptop saya pun tidak luput dari musibah tersebut. Setelah menenangkan diri sejenak dan mengamankan barang-barang yang basah barulah saya ikut ke daratan untuk membersihkan pakaian dan membilas semua baju yang basah saat tragedi dewa ruci tadi.
Yah, tragedi dewa ruci selalu dalam ingatan.
0 comments:
Post a Comment