Mendapatkan kesempatan berkunjung dan mengelilingi pulau-pulau di taman nasional Taka Bonerate adalah sebuah keberuntungan yang mungkin susah untuk didapatkan kembali. Kegiatan yang saya ikuti ini adalah bagian dari Aksi Konservasi 2014 yang dilaksanakan Balai Taman Nasional Taka Bonerate yang berkantor di jalan S. Parman No. 40 Benteng – Kab. Kepulauan Selayar.
Suasana di atas kapal menuju kawasan Taka Bonerate. foto via @Takabonerate_NP
Sekitar 4 kilometer dari tempat saya menginap Tinabo Dive Center, Benteng Selayar, terdapat dermaga TPI dengan barisan perahu-perahu kayu berjejer rapi seakan sedang melangsungkan upacara pagi. Beberapa panitia dan juri-juri yang tergabung dalam penilaian aksi konservasi 2014 taman nasional taka bonerate sudah terlihat berkumpul menunggu kelengkapan rombongan. Setelah menunggu sekitar 30 menit, kami pun para rombongan juri dan panitia menuju di sebuah kapal yang memiliki daya tampung sekitar 20 orang.
Baru satu jam perjalanan, gelombang sekitar 1,5 – 2 meter serta derasnya arus selat flores menyambut kami ke pulau Junato, ini baru kali pertamanya saya merasakan gelombang besar di atas perahu kecil yang semakin kencang bergerak ke kiri dan ke nanan. Sebenarnya jarak tempu untuk waktu normal ke desa tujuan pertama kami bisa menghabiskan sekitar 6 – 7 jam dari Benteng, tapi karena gelombang dan arus yang keras hari itu jarak tempu ke Desa Jinato kami habiskan selama 8 - 9 jam. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.
Salah satu pulau di kawasan Taka Bonerate. Foto via @iqbal_meta
Matahari sore menyambut kedatangan kami di desa tersebut, sesampai di desa yang berpenduduk sekitar 200 KK kami langsung menuju pos polhut yang tepat berada di belakang desa, setelah mencuci muka dan menikmati hangatnya teh panas, setiap juri mulai mengelilingi kampung tersebut untuk memberikan penilaiannya. Ada 3 bagian juri dalam rombongan bersama kami, [1]. Lomba Lingkungan dan Pantai Bersih, [2]. Lomba Kelembagaan Desa, dan [3]. Lomba Tranplantasi Terumbu Karang.
***
Saat mengelilingi desa Jinato dengan pemandangan jejeran rumah panggung khas Bugis Makassar serta menyaksikan interaksi harmonis masyarakatnya di bawah-bawah rumah panggung tersebut dengan menggunakan bahasa bugis adalah sebuah hal yang sangat jarang didapatkan di kota Makassar. Di Makassar interaksi antar tetangga rumah sangat jarang terjadi mungkin karena tingkat individualismenya sudah sangat tinggi. Saya sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali kata “mari singgah” dengan tambahan senyum ramah saya dapati disetiap bertemu masyarakat di desa tersebut.
Mayoritas penduduk Jinato adalah orang Bugis Sinjai. “Saat pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan banyak orang Sinjai yang hijrah dari kampungnya ke pulau-pulau terdekat. Hampir semua pulau berpenghuni di kawasan taman nasional Taka Bonerate ini memang dihuni oleh Bugis Sinjai”. Kata Pak Hasan yang menjabat sebagai kepala SPTN Wilayah I Tarupa yang saat itu juga menjadi koordinator Juri lomba lingkungan dan pantai bersih.
Seperti Bugis pada umumnya di perantauan, orang Bugis di pulau Jinato masih terus menjalankan tradisi kebudayaannya, baik itu dari bahasa, sosial masyarakat hingga kegemaran orang Bugis yang suka merusak lingkungan untuk materi menurut saya. “ai ada beberapa juga orang di sini (Jinato) yang suka membom juga membius ikan, cuman karena tidak adanya barang bukti mereka belum di proses” kata Asnur salah satu Juri dari lomba lingkungan dan pantai bersih juga, ia pun seorang Polisi yang bertugas di pulau tersebut.
Setelah berkeliling desa dan melakukan penjurian, kami pun kembali ke pos polhut untuk membersihkan diri dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya ke pulau selanjutnya. Sangat banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari pulau mayoritas Bugis ini, sangat banyak, dari interaksi, sosial serta kebudayaan yang tidak pernah berubah walau pun mereka berada di kampung orang lain. Bila anda berkesempatan ke Jinato jangan lupa melihat keindahan mataharinya yang terbit di sebelah pulau, itu adalah pagi yang indah. Jika kembali diberikan kesempatan ke sana, saya ingin melihatnya sekali lagi. [LB]
0 comments:
Post a Comment