Tugu adipura yang dibangun saat tahun 1997, saat H. Malik B. Masry menjabat sebagai Walikota Makassar saat itu adalah saksi sejarah Kota Makassar saat pertama kalinya memperoleh piala Adipura. Saat menyabet piala tersebut kota Anging Mammiri dikenal sebagai kota ‘Teduh Bersinar’ — akronim dari semboyan: Tekad untuh Hidup Bersih, Indah, Aman dan Ramah.
Pada awal tahun 2013, kota Makassar kembali mendapatkan Piala Adipura di akhir masa jabatan walikota Makassar saat itu Ilham Arief Sirajuddin. Tapi penurut pendapat pribadi saya piala Adipura Makassar yang terakhir ini sepertinya penuh dengan muatan kepentingan sang pemimpin saat itu, saya yang menjadi salah satu warga kota Makassar saat itu sama sekali tidak melihat Makassar sebagai kota yang bersih dan berhak mendapatkan piala tersebut. Pada awal tahun 2014, pemerintah kota Makassar membangun tugu Adipura 2013 tersebut tepat di anjungan pantai losari dan tugu Adipura 1997 di Tello pun ikut dipindahkan ke sana atas persetujuan H. Malik B. Masry.
Beberapa informasi yang saya dapatkan dari berita daring, tugu Adipura Tello dirubahkan karena alasan seringnya terjadi kemacetan di daerah tersebut. Memang area Tello adalah salah satu ruas jalan di Makassar yang setiap macet di setiap harinya, macet di area tersebut terjadi saat jam-jam berangkat kantor (pagi jam 8 – 9) dan saat pulang kantor (sore jam 5 - 6). Tapi menurut saya yang sering melewati jalan tersebut hal mendasar dari kemacetan terjadi karena penumpukan kendaraan dan adanya ruang lebar lalu menyempit yang berbentuk seperti sebuah botol kecap kaca, bukan dari ruang tugu yang terletak tepat di tengah pertigaan jalan kota Makassar tersebut.
Foto: tugu Adipura Tello yang berhasil dirubuhkan pukul 04 subuh tgl 01 Nov 2014 | by @jalanankota
Ketika berbicara sejarah, seketika itu kita pun kita juga berbicara arsitektur / bangunan peninggalan dari sejarah tersebut. Kota ini kaya akan sejarahnya yang mendunia, bukankah perolehan adipura pertama dari sebuah kota juga termasuk bagian dari sejarah kota itu sendiri ?. Tapi pemerintah kota ini punya persepsi sendiri mengenai bagaimana kota yang mendunia itu. Bagi saya, memindahkan atau merenovasi dengan merubah bentuk bangunan tua adalah salah satu upaya menghilangkan nilai histori dari bangunan itu sendiri, hal ini pun pernah disampaikan oleh salah satu arkeolog muda Makassar yakni kak Nanda dalam kegiatan “Kota Tua Makassar” yang pernah diadakan oleh salah satu komunitas Makassar.
"Kota tanpa bangunan tua adalah kota tanpa sejarah, dan manusia tanpa sejarah bagaikan pejalan yang kehilangan peta." – Ipung. Maukah kita juga menjadi pejalan yang tersesat tanpa peta ?
0 comments:
Post a Comment