Arti kata Toraja berasal dari bahasa bugis “to riaja” yang berarti orang yang hidup di negeri atas, itulah cara orang bugis menyebutkan daerah dataran tinggi bernama Toraja. Toraja memiliki pesona alam yang sangat indah dan memiliki kebudayaan yang masih sangat kental, itulah mengapa Toraja menjadi salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi di Sulawesi Selatan. Upacara Adat Rambu Solo’ adalah salah satu ritual adat kematian di Tana Toraja yang bermakna mengantarkan arwah yang meninggal hingga ketujuannya yakni alam roh, ritual ini menjadi magnet yang sangat kuat bagi wisatawan lokal dan domestik.
Hari itu bersama rama, saya mengantar 2 orang teman dari ID Gmail Endhoot dan Dria yang memang baru saja menginjakkan kakinya di tanah Sulawesi Selatan, sebelumnya kami sudah membuat janji akan menemani mereka melihat keindahan alam dan budaya Toraja. Mungkin 2 teman ID Gmail ini beruntung karena saat ke Toraja kami mendapatkan Upacara adat rambu solo’, padahal upacara-upacara seperti itu biasanya baru akan dilaksanakan pada akhir tahun menjelang Natal.
***
Sebelum masuknya Agama di Toraja, masyarakat di sana masih menganut kepercayaan Aluk to dollo atau yang dikenal dengan animisme. Aluk to dollo yakni dimana Masyarakat di Tana Toraja masih mempercayai adat istiadat. Dalam kebudayaan aluk to dollo di Tana Toraja sangat mengsakralkan sebuah kematian, maka dari itu di Tana Toraja ritual kematian atau yang biasa disebut upacara adat Rambu Solo’ oleh masyarakatnya sangatlah mewah, pelaksanaannya pun bisa-bisa selama 7 hari, tergantung besarnya pesta yang dilaksanakan. Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, ketika seseorang meninggal dunia tapi belum melaksanakan ritual upacara adat rambu solo’, orang yang meninggal tersebut masih dianggap hidup. Orang yang meninggal tersebut nanti dikatakan meninggal ketika sudah melewati prosesi Aluk pia / Aluk banua dalam prosesi upacara adat rambu solo’.
Ketika jenazah dianggap benar-benar wafat bagi orang Toraja
Aluk pia / Aluk banua adalah sebuah prosesi tahap pertama dari upacara rambu solo’. Prosesi Aluk pia / Aluk banua ini dilaksanakan selama 4 hari, di hari pertama keluarga duka menggelar pemotongan kerbau dan babi serta dengan diiringi dengan nyanyian yang berisi syair kedukaan (ma’badong), setelah itu keluarga duka melanjutkan prosesi perubahan tata letak jenazah untuk mengubah statusnya sebagai orang yang betul-betul sudah dianggap wafat/meninggal. Di hari kedua, nyanyian kedukaan masih saja dilantukan keluarga duka sembari menerima sanak famili yang datang dengan membawa sumbangan berupa hewan kurban (kerbau dan babi) atau uang. Di Hari ketiga keluarga duka kembali menggelar pemotongan hewan kurban, ma’bolong dan ma’batang serta diikuti dengan pembacaan mantra-mantra untuk para leluhur mereka. Di hari ke-empat ini jenasah sudah dimasukan kedalam peti yang dibuat dari kayu mati, ini sebagai simbol bahwa jenazah sudah siap diantar menuju alam roh.
***
Ketika sebuah keluarga duka mengadakan pesta adat, keluarga-keluarganya yang lain berdatangan dengan menggunakan pakaian hitam serta menyumbangkan babi dan kerbau untuk keluarga yang menggelar pesta kematian. Dari sumbangan-sumbangan keluarga inilah saat prosesi akhir nanti semua hewan yang disumbangkan di korbankan untuk bekal orang yang meninggal menuju alam roh. Makanya jangan heran ketika mendengar kalau pesta kematian di Toraja itu bisa menghabiskan ratusan juta hingga milyaran rupiah hanya untuk satu Upacara. Setiap keluarga yang datang di upacara kematian familinya diberikan satu tempat khusus berdasarkan marga keluarganya, yah orang Toraja masih sangat kental dengan marga-marganya, kemudian keluarga duka akan menjamu satu-persatu mereka disebuah rumah perjamuan dalam Upacara Rambu solo’.
Adu kerbau atau “passilaga tedong” adalah salah satu dari prosesi pesta ada rambu solo’, prosesi ini dilaksanakan untuk menghibur tamu yang datang di upacara adat rambu solo’, biasanya kerbau-kerbau yang akan dikorbankan pada pesta adat itu yang diadu. Tapi sayang siang itu kami tidak melihat passilaga tedong pada pesta rambu solo’ di Randang Batu – Toraja.
Saya sempat bertanya pada salah satu warga Toraja yang siang itu juga hadir menyaksikan upacara adat rambu solo’ di Randang Batu, saya bertanya seperti ini “Kenapa masyarakat Toraja memilih tebing batu sebagai tempat pekuburan mereka saat dulu ?”, lelaki kumis setengah baya yang menggunakan sarung hitam khas Toraja itu menjawab dengan logat Torajanya yang kental “Toraja ini daerah yang banyak gunung, orang dulu itu sangat mementingkan tanahnya untuk bersawah atau berkebun. Makanya orang dulu di Toraja itu rela membuat lubang di tebing-tebing untuk memakamkan keluarganya yang meninggal, begitulah orang Toraja menghargai tanah untuk keperluan hidup. Tapi itu dulu dek, sekarang sudah banyak orang Toraja memakamkan keluarganya dengan memanfaatkan tanah miliknya dan dibanguni rumah pemakaman”
“Kepergian bukan hanya perihal tentang kesedihan, tapi juga silaturahmi yang selalu terjaga” begitulah saya memaknai upacara adat rambu solo’ siang itu di Randang Batu bagian selatan Toraja.
Tips Berwisata di Toraja:
- Buat teman-teman yang ingin berwisata di Toraja baiknya merental motor karena jalan-jalan di Toraja itu kecil-kecil bila sudah masuk ke pelosok-pelosoknya. Harga rental motor di Toraja berkisar Rp. 60.000 sampai dengan Rp. 100.000, tergantung bagaimana teman-teman menyewanya. Lokasi rental motor banyak di dekat lapangan rantepao.
- Bila melakukan destinasi ke Toraja, baiknya dahulukan pesta pesta adat kematian atau Rambu solo’ ketimbang tempat-tempat wisata lainnya, wisata lainnyakan tempatnya tetap dan tiap hari juga buka. Untuk informasi mengenai pesta adat kematian atau Rambu solo’, biasanya tempat rental motor tahu banyak tentang informasi ini atau coba ke dinas pariwisata Toraja.
- Buat teman-teman yang ingin bermalam dan mencari tempat yang murah, di depan hotel missliana itu ada homestay yang tidak memiliki dinding pemisah, harganya itu Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 30.000 /permalam. Homestay ini tidak memiliki nama, tapi tanya saja di daerah sekitar (depan hotel missliana) rumahnya “mama roma” penduduk setempat pasti tau kok. Keunggulan bermalam di sini itu bila banyak supir travel yang juga nginap, informasi mengenai pesta adat rambu solo’ ada semua.
oh alasan dikuburkan di tebing2 seperti itu, gw pikir biar arwah leluhurnya bisa mendapatkan pemandangan terbaik di atas sana, sambil mengawasi keturunannya
ReplyDeleteitu hasil tanya-tanya sama penduduk setempat pas siang itu di upacara rambu solo dria :)
ReplyDelete